4 Mahasiswi Cantik Ini Ciptakan Aplikasi Penyandang Tunarungu

Foto: Twitter

BANDUNG, Waspada.co.id – Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tergugah membantu penyandang disabilitas tuna rungu (tuli). Mereka pun membuat aplikasi Hear Me.

Keempat mahasiswa ITB dimaksud adalah Athalia Mutiara Laksmi, Safirah Nur Shabrina, Octiafani Isna Ariani, dan Nadya Sahara Putri. Mereka sengaja membuat Hear Me terinspirasi oleh pengalaman pribadi ketika memesan taksi online.

Ceritanya, mereka pernah mendapat supir tuli yang ditemani putrinya untuk memfasilitasi komunikasi dengan penumpang. Hear Me hadir sebagai solusi memfasilitasi komunikasi antara pendengar dan teman-teman tuli, sehingga nantinya tidak ada kesenjangan dalam berkomunikasi, mengurangi diskriminasi, menyediakan fasilitas ramah-disabilitas, dan meningkatkan hak yang sama bagi penyandang disabilitas.

Hear Me merupakan sebuah aplikasi membantu penyandang disabilitas tuna rungu (tuli) dalam berkomunikasi dengan orang normal. Aplikasi yang digagas ini bisa merekam suara di dalam aplikasi saat berkomunikasi dengan teman tuli, lalu aplikasi mengolah suara tersebut menjadi bahasa isyarat lewat animasi.

Aplikasi ini pun diikutsertakan dalam berbagai perlombaan. Menurut CEO Hear Me Athalia, motivasi ikut serta dalam berbagai kompetisi tersebut karena awalnya Hear Me ingin mendapatkan modal bisnis, menambah hubungan, pengalaman, pengetahuan, dan wawasan untuk bisnis masa depan.

Salah satu kompetisi yang berkesan bagi mereka saat mengikuti DSCX 2019. Itu merupakan kompetisi yang memberikan peluang bagi anak muda Indonesia yang berani menjadi wirausahawan untuk mendapatkan hibah modal usaha total Rp2 miliar, bantuan, dan pendidikan.

Dalam mengikuti kompetisi ini, Atha belajar menjadi pembelajar yang cepat dan harus berjuang keras sehingga dapat menyamai kemampuan dengan peserta lain dan mampu menyelesaikan tantangan dengan hasil yang memuaskan.

“Setiap malam aku harus mengevaluasi dan menerapkan materi yang diterima hari itu dan selalu latihan presentasi setiap saat,” katanya, Jumat (29/11).

Hal tersebut dilakukan karena salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah bersaing dengan 12.000 peserta yang memiliki kualitas cukup sulit. Athalia berharap aplikasi Hear Me bisa semakin berkembang di masa depan dengan modal yang telah didapat. Sehingga mereka dapat mewujudkan ide-ide mereka dan membantu penyandang tuna rungu dalam berkomunikasi.

Selain DSCX, Athalia cs berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, seperti peringkat kedua Swiss Innovation Challenge dan inovasi terbaik pada Bandung Pitching Days. (wol/aa/tempo/okz/data3)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL