Resmi Tinggalkan Gojek, Ini Pro Kontra Nadiem Makarim Jadi Menteri

Foto: Merdeka.com

JAKARTA, Waspada.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan membentuk kementerian baru, salah satunya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang naik tingkat menjadi Kementerian Ekonomi Digital dan Ekonomi Kreatif. Kementerian baru ini yang diprediksi bakal menjadi tempat Nadiem Makarim bertugas nanti.

Pendiri Gojek, Nadiem Makariem, menjadi salah satu tokoh yang datang ke istana negara jelang pengumuman kabinet Jokowi. Nadiem mengakui adanya pembahasan jabatan di kabinet dengan Presiden Jokowi.

Meski tidak mengungkap langsung jabatan yang akan diembannya, dia menyatakan siap untuk bergabung dalam kabinet baru nantinya. “Untuk spesifik, saya belum bisa bicara karena itu hak prerogatif presiden,” tutur Nadiem.

Kendati belum diumumkan secara resmi, kabar ini sudah menuai berbagai pendapat dari berbagai kalangan. Berikut pro dan kontra Nadiem Makarim menjadi menteri.

Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, menilai penunjukkan Nadiem di kabinet menjadi sejarah baru bagi startup Indonesia. Dia yakin Nadiem akan membawa Indonesia semakin maju di dunia.

Advertisement

“Hari ini Nadiem dipanggil Presiden Joko Widodo untuk hadir di Istana Negara untuk menjadi bagian dari kabinet baru. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, di mana visi seorang pendiri startup lokal mendapat pengakuan dan dijadikan contoh untuk pembangunan bangsa,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (21/10).

Sementara, Rektor UI Periode 2014-2019 Prof Ari Kuncoro menilai, kinerja Nadiem Makarim sudah teruji lewat menahkodai perusahaan besar sekelas Go-Jek. Selain itu, reputasi Nadiem menurut dia juga sudah terbukti sebagai jebolan dari Universitas Harvard.

“Sekarang masyarakat sudah bisa membentuk ekspektasi terhadap pemerintahan dan membentuk tingkah laku. Ini adalah suatu bentuk aplikasi dari kredibilitas,” tuturnya di Gedung BEI, Senin (21/10).

Kuncoro mengatakan, latar belakang Nadiem sebagai pengusaha akan membantu menelurkan kebijakan-kebijakan kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, sosok Nadiem Makarim juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor asing untuk datang ke pasar domestik. “Investor-investor bisa melirik Indonesia dengan pendekatan door to door karena sosok orangnya,” kata dia.

Nadiem Makarim secara resmi telah mundur sebagai CEO dari perusahaan transportasi yang didirikannya tersebut. Sebagai gantinya, Andre Soelistyo, Presiden Go-Jek Grup dan Kevin Aluwi, co-founder Go-Jek akan berbagi tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan sebagai co-CEO, dengan fokus membawa perusahaan ke tahap selanjutnya.

Rektor UI, Ari Kuncoro memprediksi prospek Go-Jek ke depannya akan tetap berjalan karena sang pendiri telah berhasil membangun Go-Jek hingga sebesar ini.

“Untuk prospek Go-Jek (Nadiem) memang harus cari orang lagi. Tapi yang pasti kalau sudah jalan bisnisnya ya gampang ke depannya. Kalau pengusaha kan yang penting ide awal,” tuturnya di Gedung BEI, Senin (21/10).

Pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) rupanya tak setuju bila Nadiem dijadikan menteri oleh Jokowi. Ketua Presidium Nasional Garda Igun Wicaksono bahkan mengancam bakal mengerahkan massa dalam jumlah besar bila Nadiem menerima ajakan Jokowi.

“Ojol tidak setuju apabila Nadiem Makariem jadi salah satu menterinya Jokowi. Akan ada pergerakan seluruh Indonesia sebagai penolakan,” seru Igun saat ditanyai Liputan6.com, Senin (21/10).

Meski sudah tak lagi memegang jabatan tertinggi di perusahaan, Igun mengatakan, Nadiem saat ini masih tercatat sebagai pemilik bisnis Gojek. Oleh karenanya, dia meminta kepada Nadiem untuk terlebih dahulu mensejahterakan para driver ojol sebagai mitra kerjanya sebelum beralih pijakan menjadi seorang menteri. (merdeka/data1)