Jaksa Jebloskan Ramadhan Pohan ke Rutan Tanjung Gusta

Terdakwa kasus penipuan yang juga politikus Partai Demokrat, Ramadhan Pohan mengikuti sidang dengan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (27/10). Majelis Hakim memvonis Ramadhan Pohan dengan hukuman selama 15 bulan penjara terkait kasus penipuan sebesar Rp 15,3 miliar. (WOL Photo/Ega Ibra)

MEDAN, Waspada.co.id – Tim Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), menjebloskan Ramadhan Pohan mantan calon Wali Kota Medan dan anggota DPR RI, yang menjadi terpidana kasus penipuan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I A Tanjung Gusta Medan.

Politikus Partai Demokrat tersebut menghuni di Lapas Tanjung Gusta, Medan, setelah putusan Mahkamah Agung (MA) yang menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara.

“Terpidana (Ramadhan Pohan-red) kita eksekusi pada hari Jumat (12/10) lalu. Sekitar pukul 13.00 Wib,” ujar Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejatisu, Sumanggar Siagian, saat dikonfirmasi, Senin (14/10).

Mantan Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat itu lanjut Sumanggar, telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan. Sebagaimana di atur dalam Pasal 378 dan Pasal 374 KUHP.

“Sesuai amar putusan Mahkamah Agung, terpidana dihukum 3 tahun penjara,” jelasnya.

Advertisement

Ramadhan Pohan cukup kooperatif. Ia hadir tak lama tim jaksa Penuntut Umum mengirimkan surat pemanggilan. “Terpidana kooperatif memenuhi panggilan. Langsung kita eksekusi ke Lapas Tanjung Gusta Medan,” pungkasnya.

Diketahui, 3 tahun penjara yang harus dijalani Ramadhan Pohan merupakan putusan majelis hakim Mahkamah Agung yang diketuai Andi Abu Ayyub Saleh. Putusan itu menguatkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Medan yang menghukum Ramadhan Pohan 3 tahun penjara.

Sementara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Ramadhan hanya dijatuhi hukuman 1 tahun 3 bulan penjara. Ramadhan dan Savita, telah menipu Rotua dan putranya Laurenz.

Rotua merugi Rp10,8 miliar, sedangkan Laurenz mengalami kerugian Rp4,5 miliar. Sehingga jumlah totalnya menjadi Rp15,3 miliar.

Perkara penipuan ini terjadi menjelang Pilkada serentak pada penghujung 2015. Korban mengaku terbujuk rayu dan janji hingga mau memberikan uang sebesar Rp15,3 miliar untuk kepentingan Ramadhan Pohan.

Untuk meyakinkan korban, Ramadhan Pohan meninggalkan cek kepada Laurenz. Ternyata saat akan dicairkan isi rekeningnya hanya sekitar Rp10 juta. (wol/lvz/data1)

Editor: SASTROY BANGUN