Idrus Marham Mengaku Korban Eni Saragih

foto: Liputan6

JAKARTA, Waspada.co.id – Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham, menyebut dirinya hanya jadi korban dari Eni Maulani Saragih dalam kasus suap terkait PLTU Riau 1.

Hal itu disampaikan Idrus saat membacakan nota pembelaan (pledoi) pribadinya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (28/3).

“Betapapun kami sering mengatakan, ‘Jangan libat-libatkan saya’. Namun, Eni Maulani Saragih tetap saja berusaha untuk itu, sekali pun melalui komunikasi yang tidak mempunyai arti spesifik, sebagai suatu curhat, kendati pun ternyata sebenarnya adalah hanya untuk legitimasi diri dari orang-orang yang diajak berkomunikasi,” kata Idrus diruang sidang.

Idrus menyebut posisi Eni Maulani Saragih dalam episentrum kepentingan pragmatis, mengaku baru menyadari setelah kasus suap terkait PLTU Riau 1 ini terbongkar dan mempelajari sejumlah pecakapan WhatsApp (WA), taping, dan penjelasan yang ada.

Menurut Idrus, pola komunikasi yang dilakukan Eni tersebut bukan hanya dilakukan kepadanya, tetapi juga kepada orang-orang yang memiliki prospek, terutama prospek politik dan ekonomi agar dapat mengendalikan komunikasi semuanya.

“Dengan kata lain, Eni mengembangkan komunikasi secara diagonal dengan menempatkan dirinya pada posisi episentrum yang menentukan komunikasi, dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingannya, terutama kepentingan politik dan ekonominya,” ungkapnya.

“Maka Eni Maulani Saragih mengembangkan suatu pola permainan yang seakan-akan berbuat jujur di balik ketidakjujuran,” sambungnya.

Dalam perkara ini, jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Idrus Marham divonis 5 tahun penjara dan membayar denda Rp300 juta subsider 4 bulan kurungan.

Menurut penuntut umum, terdakwa Idrus Marham terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap bersama-sama Eni Maulani Saragih selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sejumlah Rp2,25 miliar dari bos BNR, Johanes Budisutrisno Kotjo. (inilah/ags/data2)