Gus Irawan: Ekonomi 2019 Ditentukan Presiden Terpilih

WOL Photo/Ist

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu menilai ekonomi 2019 akan ditentukan oleh presiden terpilih pasca April nanti. “Siapa pun presiden terpilih akan mempunyai tugas berat memperbaiki kondisi ekonomi yang saat ini sudah amburadul,” tuturnya.

Dia mengungkapkan hal itu sebagai refleksi ekonomi 2018 menyongsong tahun 2019 di Medan, Senin (31/12) kemarin. “Kondisi kita di 2018 sungguh gawat. Penuh tantangan. Rupiah terpuruk ke posisi terendah dalam 20 tahun terakhir dan deficit neraca transaksi berjalan juga mencatat sejarah paling jelek. Dan pemerintah sekarang merasa seperti tidak ada masalah,” tuturnya.

Hal itulah yang membuat kondisi negara ini semakin merosot secara ekonomi, jelasnya. Gus Irawan Pasaribu mengatakan Indonesia bersama banyak negara lain sedang menghadapi potensi ketidakseimbangan (disequilibrium) baru akibat kebijakan pengetatan moneter di negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) dan juga perang dagang AS versus China.

Sikap kurang bersahabat Presiden AS Donald Trump terhadap World Trade Organization (WTO) turut berperan dalam keseimbangan perekonomian global. Di sisi lain, langkah bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) menaikkan Fed Fund Rate (FFR) berdampak pada depresiasi rupiah. Nyaris sepanjang tahun ini, masyarakat melihat penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Rupiah bahkan sempat mencapai level terendah dalam 20 tahun terakhir, ketika pada hari transaksi Selasa 2 Oktober 2018 ditutup pada level Rp 15.042,05 per dolar AS di pasar spot Bloomberg,” ungkapnya.

Advertisement

Untuk mereduksi ekses dari ketidakseimbangan baru itu, Indonesia memang harus melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi. Salah satunya adalah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen, sehingga membawa rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Kendati demikian, rupiah masih berpotensi mendapatkan tekanan jika Fed menaikkan lagi FFR pada 2019.

Namun masih belum mampu menstabilkan nilai tukar pada level yang ideal, jelasnya. Gus Irawan mengingatkan kondisi ekonomi ini tetap akan sulit tahun depan. “Siapa pun presidennya. Tapi negara ini memang butuh arsitek baru, butuh pemimpin baru untuk mengubah situasi.”

“Kalau yang lama juga yang terpilih ya kita akan begini-begini saja. Ekonomi dan ketidakpastian hukum serta politik, aroma perpercahan dimana-mana akan terus terjadi. Dan tentu kita tidak mau hal seperti itu berlanjut,” jelasnya.

Dia mengatakan ada moment seluruh rakyat Indonesia untuk menghentikan kondisi yang sekarang pada April 2019 nanti. “Itu jadi momentum. April 2019 untuk pemilihan presiden harus menjadi titik tolak kita mencapai ekonomi yang lebih baik tahun 2019. Kalau kita pilih petahana atau presiden sekarang ya kita tidak akan berubah,” tuturnya. (wol/min/data2)

Editor: Agus Utama