Soal Teror Gereja, Gubsu dan Wali Kota Diminta Koordinasi Dengan FKUB

(WOL Photo/Ridin)

MEDAN, WOL – Gubernur Sumatera Utara dan Wali Kota Medan diminta untuk melakukan koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKUB) di Sumatera Utara dan Medan terkait tidakan teror terhadap sebuah gereja katolik di Jalan dr Mansyur Medan. Tanggung jawab keamanan dan ketertiban umum menjadi tugas bersama FKUB, dan gubernur sebagai koordinator di tingkat Provinsi Sumatera Utara, dan wali kota sebagai koordinatornya di tingkat Kota Medan. Hal tersebut diungkapkan oleh anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan kepada Waspada Online Minggu (22/8).

” Tindakan teror terhadap gereja kembali terjadi di ibukota Provinsi Sumatera Utara, setelah teror bom pertama kali terjadi di GKPI Kompleks Perwira Menengah Kodam I/ BB, Padang Bulan Medan pada ibadah kebaktian minggu, 28 Mei 2000. Hari ini, 16 Tahun kemudian, Gereja Katolik St. Yosef, di wilayah yang tidak terlalu jauh, masih di sekitar kampus USU Medan, terjadi penyerangan yang dilakukan orang yang menyamar sebagai jemaat kepada Pastor yang melayani misa.

Kita menyatakan turut prihatin dan sangat menyesalkan terjadinya teror di gereja yang mengakibatkan luka tusukan pada lengan Pastor Albert S Pandiangan yang melayani misa. Tindakan teror tersebut tentu akan menimbulkan ketakutan dan trauma bagi jemaat yang menyaksikan dari jarak yang sangat dekat. Dalam hal ini, pemerintah diharapkan melakukan tindakan konkrit berupa penanganan luka pastor dan juga penanganan secara psikologi kepada jemaat yang mengalami dan menyaksikan teror,” ujar Sutrisno.

Menurut Teror dalam bentuk apapun dan dimanapun adalah tindakan kejahatan kemanusiaan, dan negara telah menyatakan bahwa terorisme adalah paham yang dilarang dan menjadi musuh negara. Maka siapapun pelakunya, apapun latar belakang dan tujuan teror tersebut, negara dan seluruh warganya harus melawan.

“Kepada seluruh warga masyarakat kota Medan, Sumatera Utara diharapkan tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya penanganan teror tersebut kepada Polri dan BNPT. Seluruh pihak diminta untuk tidak mengaitkan latar belakang suku, agama, etnis pelaku teror terhadap kegiatan teror yang dilakukan di Gereja St. Yoseph Medan. Latar belakang pelaku, sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan teror yang dilakukan. Kita semua bersatu untuk melawan segala bentuk teror dan paham terorisme, namun tindakan teror tersebut tidak dapat dikaitkan dan dihubungkan dengan latar belakang suku, agama, etnis maupun identitas pelaku, ” kata Wakil Bendahara Fraksi PDI Perjuangan itu.

Sutrisno juga meminta seluruh warga masyarakat dan seluruh pihak, untuk tidak mengunggah photo pelaku, identitas pelaku ( KTP ) di berbagai media. Kita tetap berharap suasana tetap kondusif untuk keberlanjutan kehidupan sosial di Medan, Sumatera Utara. Kita berharap, berbagai informasi yang tersebar tidak menjadi bias dan dapat menciptakan masalah baru akibat dari penyebaran informasi yang tidak tepat.

“Kepada seluruh alat negara ang memiliki fungsi intelijen, diminta untuk meningkatkan kinerja dan pengawasannya. Kejadian tersebut memberi pesan bahwa, sekali lagi intelijen negara untuk semua kesatuan, kebobolan! Alat negara kita ang memiliki fungsi intelijen, selalu terlambat untuk mengantisipasi kejadian teror, akibatnya warga masyarakat selalu saja diperhadapkan pada ketidakhadiran negara dalam penanganan tindak pidana terorisme,” Sutrisno.

Wali Kota Medan  juga kata Sutrino diminta untuk memerintahkan kepada seluruh kepling, lurah, camat untuk mengaktifkan kembali Sistem Keamanan Lingkungan secara partisipatif. Paham terorisme bergerak secara cepat dan sporadis dengan menggunakan kemajuan teknologi, oleh karena itu, kewaspadaan kolektif perlu dibangun dan ditingkatkan. Pemerintah diminta segera membangun sistem peringatan dini terhadap terorisme, sehingga berbagai kejadian teror dapat kita cegah dan kita hindari  secara bersama.

“Sekali lagi kita tegaskan bahwa kita semua tidak pernah takut dan tidak dapat ditakut- takuti oleh teroris. Oleh karena itu, seluruh warga masyarakat kota Medan Sumatera Utara diharapkan tetap tenang dan tetap melanjutkan aktivitas sehari- hari, dengan harapan kita semua tetap dalam satu semangat dan gerakan bersama melawan teror dan terorisme,” harap Sekretaris Komisi C DPRD Provinsi Sumatera Utara itu(wol/rdn/data2)