Barang China Masih akan Banjiri Indonesia

Ilustrasi

JAKARTA, WOL – Pemerintah Indoneisia mengakui, China terus berpotensi untuk menjadi pemeran utama dalam mempengaruhi kondisi perekonomian global, yang sebelumnya selalu dipegang oleh negara-negara Barat.

Menteri Perdagangan  Thomas Trikasih Lembong mengatakan,  meski kondisi perekonomian global saat ini tengah labil namun, Negeri Tirai Bambu tersebut sedang melakukan transformasi perekonomiannya.

“Soal ekonomi China, yang paling utama adalah pemerintah China sedang transformasi perekonomian mereka untuk menjadi pemain utama, naik kelas,” ujar Lembong di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (18/1).

Bahkan, menurutnya, saat ini China tercatat sebagai negara manufaktur terbesar di dunia. Hal itu dicontohkannya dengan buruh yang dibayar sangat rendah, tetapi dengan ketrampilan yang tinggi, sehingga menghasilkan barang-barang berkualitas setara yang diproduksi negara maju, tapi dengan harga jauh lebih murah.

“Akibatnya, kita dorong untuk ke sana. Dengan demikian, banyak pabrik China yang pindah ke Indonesia, Malaysia dan Vietnam, untuk cari upah yang lebih murah,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Lembong, hasil-hasil barang buatan yang berasal dari China semakin membanjiri dunia. Mulai dari elektronik, peralatan rumah tangga, tekstil, hingga otomotif.

“Kita harus bisa bersaing untuk merebut pabrik-pabrik dari perpindahan China. Kita harus menyesuaikan diri kepada Asia Timur dan transformasi China. Mereka tak lagi menggunakan komoditas dalam jumlah besar, dan mereka lebih ke kita dan kita mau pindah dari konsumsi ke produksi, ke konsumsi ke investasi,” kata dia.

Selain itu, Lembong menjelaskan, saat ini perekonomian China telah tumbuh sekitar US$10 miliar, dengan pendapatan per kapita mencapai US$7-8 ribu per kapita.

“Perekenomian China itu sekarang US$10 miliar per tahun atau sekitar US$7-8 ribu per kapita. Mereka harus naik kelas, karena industri barang dan jasa semakin canggih dan gaji buruh semakin mahal,” ujarnya.(viva/data1)