PHRI Sumut Ajak UKM Sergai Masuk Hotel

Ketua PHRI Sumut Denny S Wardhana (berdiri) di hadapan para pengusaha UKM Sergai menjelaskan skema agar produk UKM bisa masuk hotel. Dewi Juita Purba (kanan) dan Taufik Batubara (kiri) mendampinginya (WOL Photo)

SERDANG BEDAGAI, WOL – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut, Denny S Wardhana, mengajak usaha kecil menengah di Serdang Bedagai memasarkan produknya ke hotel-hotel yang ada di Sumut.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pemateri dalam program Ipteks Bagi Wilayah (IBW) yang diselenggarakan Universitas Negeri Medan (Unimed) berkerjasama dengan Pemkab Serdang Bedagai dan Universitas Meda Area (UMA), di Kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar di Pasar Bengkel Serdang Bedagai, Jumat (2/10).

Hadir di situ Sekretaris PHRI Sumut Dewi Juita Purba, Kepala Bappeda Serdang Bedagai Taufik Batubara, Dosen Universitas Negeri Medan, Zulkarnain Siregar dan Armin Nasution serta 25 pelaku usaha kecil menengah.

Paparan yang disampaikan Denny S Wardhana langsung disambut para pelaku UKM yang lebih banyak ibu rumah tangga. Mereka mengelola bisnis seperti produksi dodol, keripik ubi, keripik kentang, jamu. Kemudian ada perajin kotak tisu, anyaman serta usaha bordir.

Siti Manurung, perajin kotak tisu dari enceng gondok, misalnya langsung berharap agar anggota PHRI Sumut mau menampung produk mereka. “Kalau produksi kita terus jalan. Cuma sering terkendala pemasaran,” jelasnya.

Begitu juga perajin dodol Wak Alang. “Kendalanya di pemasaran. Dan merek ini memang belum diurus hak atas kekayaan intelektualnya. Namun kita berharap agar hotel mau menerima,” jelas Anorefin, perajin dodol.

Hal senada disampaikan Mahfuzan pengusaha keripik ubi dan kue bawang. “Maunya ada kerjasama hotel dengan perajin dan pengelola usaha kecil menengah agar pemasaran kita bisa lebih bagus,” tuturnya.

Semua keluhan usaha kecil itu langsung direspon Denny, Dewi Juita Purba dan Taufik Batubara secara bergantian. Menurur Denny, agar produk UKM bisa masuk hotel harus dicek dulu beberapa hal.

“Pertama unsur kesehatan dan keamanan, kedua kemasan dan ketiga kontinuitas produksi,” ujarnya. “Kita perlu jaminan kesehatan bahwa produk yang dikonsumsi aman jika itu bicara makanan. Dan untuk souvenir harus aman atau tidak membahayakan. Karena kita berhubungan dengan tamu, bahkan orang asing atau turis. Jangan sampai mereka kecewa,” kata Denny.

Begitu juga dengan packing sering bermasalah, jelasnya. “Silakan para UKM di sini berkomitmen dengan Dinas Perindustrian Sergai nanti akan kita sampaikan ke industri atau anggota kita mana yang kira-kira bisa ditampung,” ungkap Denny.

“Tapi kalau produk itu mau dipasarkan di Garuda Plaza Hotel sekarang pun bisa saya jawab. Untuk produk yang mau dijual di GPH kita sediakan tempat pajangan sekaligus. Minggu depan juga sudah bisa langsung,” kata dia.

Hal lain yang disoroti Denny adalah soal kontinuitas produk. “Artinya kalau sudah diterima hotel harus ada jaminan barang tersebut terus tersedia. Jangan sampai terputus saat diperlukan.”

Sementara Dewi Juita Purba menekankan agar produk UKM terutama makanan yang mau dipasarkan ke hotel harus melabeli barangnya dengan tanggal kadaluarsa.

“Kedua, harus tertera konten di label. Misalnya kalau produk jamu, apa saja kandungannya. Temulawak, kunyit dan dicampur apa itu penting,” kata Dewi.

Ketiga, harus memenuhi syarat kesehatan, sambungnya. “Jangan sampai ada produk berbahaya masuk hotel. Karena kalau ada yang begitu bukan bapak dan ibu yang menerima komplain. Tapi kita yang mengelola hotel dan restoran,” jelas Dewi yang juga pengelola Café Nongkrong Jl. Samanhudi itu. Kepala Bappeda Sergai Taufik Batubara menyatakan dengan kehadiran PHRI ke Sergai akan sangat membantu.

“Kita nanti akan membuat nota kesepahaman dengan Sergai agar pemasaran UKM makin baik. Kita jadwalkan follow up kesepakatan itu bulan ini atau paling tidak bulan depan,” jelasnya.

Dia mengharapkan UKM Sergai menerima dan menyiapkan berbagai langkah prosedural agar pelaku usaha tersebut bisa masuk hotel.(wol/data2)

Editor: SASTROY BANGUN