Tim Pemko Tagih 3 Restoran Tak Bayar Pajak

WOL Photo

MEDAN, WOL – Pemko Medan terus bergerak memaksimalkan penagihan pajak. Kamis (30/1) Tim Penagihan Pajak Pemko Medan merazia tiga restoran yang selama ini belum terdaftar sebagai wajib pajak. Namun telah beroperasi. Tim yang diketuai Taufik Helmi SH, bergerak dari kantor Dinas Pendapatan Kota Medan. Turut dalam tim unsur Dinas Pariwisata Kota Medan, Bagian Hukum, Satopol PP, Inspektroat, Denpom, dan aparat Polresta Medan.  Restoran yang pertama didatangi adalah Rumah Makan Asindo yang berlokasi Jalan Bunga Terompet Raya, Kelurahan Selayang II, Medan Selayang.

Memurut catatan Tim, rumah makan khas Batak ini telah beroperasi lebih dari setahun. Namun sampai kini belum juga mendaftarkan diri sebagai wajib pajak kepada Dispenda. Kesengajaan ini membuat tidak ada setoran pajak restoran sebesar 10 persen dari rumah makan milik Ana Tobing ini.

Saat berdialog dengan Ketua Tim Penangihan Pajak, Taufik Helmi SH, pemilik mengaku, rumah makannya sunyi dari konsumen. PadahaL menurut pemantauan Dispenda, rumah makan itu memilik jam-jam ramai pengunjung pada sore dan malam hari.

Secara persuasive, Taufik menasehati Ana agar mendaftarkan rumah makannya sebagai wajib pajak. Dalam kesempatan itu, Taufik juga menyodorkan Berita Acara Pemanggilan kepada Ana. Dalam surat itu Ana diwajibkan untuk datang ke Dispenda pada Senin, 4 Mei 2015 untuk mendaftarkan rumah makannya sebagai wajib pajak. Berita acara ini ditandatangani oleh seluruh anggota Tim termasuk, Ana sebagai pengusaha.

Dari Rumah Makan Asindo, Tim pun bergerak mendatangi Restoran Burung Goreng. Di restoran ini, Tim tidak berjumpa dengan pemiliknya. Kedatangan Tim hanya disambut oleh salah seorang karyawan yang bernama Yopi.

Restoron Burung Goreng ini sudah beroperasi selama lima bulan, namun  seperti Rumah Makan Asindo, pemilik belum juga mendaftarkan usahanya sebagai wajib pajak. Tindakan yang sama pula diambil, yakni memanggil pemilik ke Dinas Pendapatan Medan pada Senin, 4 Mei 2015 untuk mendaftarkan usaha restorannya sebagai wajib pajak.

Tidak berhenti sampai di situ, Tim kembali bergerak mendatang restoran Nila Bakar, Sabar Subur. Sama seperti dua rumah makan sebelumnya, restoran ini juga belum terdaftar sebagai wajib pajak. Bedanya, restoran ini telah beroperasi selama tujuh bulan.

Di restoran ini, Tim diterima oleh salah seorang karyawan yang bernama Tety Yulianti. Tindakan pembinaan  juga dilakukan pada pemilik, yakni wajib  datang ke Dinas Pendapatan pada 4 Mei 2015 untuk mendaftarkan usaha restorannya sebagai wajib pajak.

Kepada ketiga pemilik rumah makan ini, Tim mengeluarkan kebijakan yang sifatnya membina, yakni tidak mempermasalahkan pajak yang telah dipungut mereka dari konsumen. Namun, mulai Mei 2015 mereka sudah harus menjadi wajib pajak.

Taufik mengatakan, tim akan terus bekerja untuk melakukan penertiban kepada usaha-usaha yang tidak membayar pajak maupun belum terdaftar sebagai wajib pajak. Dia mengimbau agar pengusaha memiliki kesadaran untuk taat pajak. “Karena memang dari pajak itulah pembangunan dibiayai,” ungkapnya. (wol/data1)

Editor: SASTROY BANGUN